IB Octafx Indonesia - Utang Luar Negeri Swasta Jatuh Tempo Desember 2013

IB Octafx Indonesia - Utang Luar Negeri Swasta Jatuh Tempo Desember 2013

IB Octafx IndonesiaUtang Luar Negeri Swasta Jatuh Tempo Desember 2013
Utang luar negeri swasta sebesar US$8 miliar atau sekitar Rp95 triliun akan jatuh tempo pada bulan depan (Desember 2013). Utang tersebut terdiri atas utang bank dan non bank.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik dan Moneter Bank Indonesia (BI), Hendy Sulistyowati, Jumat 29 November 2013, menuturkan bahwa utang luar negeri pada periode Oktober-Desember sebesar US$18,89 miliar.

"US$11 miliar sudah jatuh tempo di Oktober-November dan sudah dibayar swasta. Ada lagi, sekitar US$8 miliar dibayar di Desember," kata Hendy di Gedung BI, Jakarta.

Bank sentral ini memerinci utang luar negeri pemerintah dan swasta yang jatuh tempo dari Oktober-Desember mencapai US$21 miliar.

Utang tersebut terdiri dari US$18,89 miliar, yang merupakan utang swasta dan sisanya sekitar US$2,1 miliar merupakan utang pemerintah. Utang swasta US$18,89 miliar terdiri atas US$3,72 utang perbankan dan US$15,72 miliar utang non perbankan.

Sementara itu, utang pemerintah sebesar US$2,1 miliar terdiri atas US$1,2 miliar utang pokok dan sisanya adalah bunga.

Selain itu, BI mencatat ada utang luar negeri swasta non perbankan sebesar US$5,9 miliar jatuh tempo pada Desember ini. Dalam pelunasan tersebut, BI mensurvei puluhan perusahaan korporasi. Ada 20 perusahaan korporasi yang memiliki utang sebesar 62 persen.

Hendy menjelaskan, sebanyak US$4,6 miliar atau 78 persen tidak dibayar Desember ini. Utang tersebut, dijadwalkan kembali pembayarannya (rescheduling).

"Penjadwalan ulang dilakukan bukan karena likuiditas, tetapi berdasarkan kesepakatan perusahaan induk dan anak. Itu tergantung kepada kebutuhan perusahaan anak dan induk," kata dia.

Dari survei tersebut, didapatkan bahwa 15 persen perusahaan korporasi telah memiliki valas sebesar US$0,8 miliar untuk membayar utang. Namun, ada tujuh persen perusahaan yang belum memiliki valas untuk membayar utang sebesar US$0,4 miliar.

"Valas juga bukan semata-mata untuk membayar utang. Ada juga pembelian barang yang menggunakan dolar, seperti yang terjadi pada PLN," ungkapnya. (asp)